Ketahui Gejala dan Penyebab Risiko Kehamilan Ektopik!

Risiko Kehamilan Ektopik

Apa Itu Kehamilan Ektopik?

Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar rahim (uterus). Kondisi ini bisa menyebabkan Moms mengalami nyeri panggul, perdarahan hebat, dan keguguran, karena janin tidak akan bisa berkembang. Lalu, apa saja risiko kehamilan ektopik? Berikut penjelasannya.

Pada kehamilan normal, sel telur yang telah dibuahi akan menempel pada dinding rahim. Akan tetapi, pada kondisi hamil di luar kandungan, sel telur malah menempel di organ-organ lain.

Kehamilan ektopik sering terjadi pada tuba falopi. Akan tetapi, bagian tubuh lain juga dapat mengalaminya, seperti indung telur (ovarium), rongga perut, atau leher rahim (serviks).

Kehamilan ektopik tidak bisa dipertahankan, karena telur yang telah dibuahi gagal bertahan hidup dan hanya akan menimbulkan komplikasi medis serius apabila biarkan. Oleh sebab itu, kehamilan ektopik biasanya harus diangkat melalui operasi maupun penggunaan obat-obatan.

Perawatan yang sesuai dan benar bisa mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan peluang di masa depan untuk mempunyai kehamilan yang sehat.

Baca juga: Rekomendasi Celana Hamil Agar Moms Bergerak Bebas!

Apa Saja Gejala Kehamilan Ektopik?

Gejala kehamilan ektopik sedikit mirip dengan tanda kehamilan pada umumnya di minggu ke-4 sampai ke-12. Penderita akan mengalami haid yang terhenti, nyeri pada payudara ketika disentuh, dan mual-mual.

Jika penderita melakukan tes kehamilan, hasilnya juga dapat positif. Oleh sebab itu, kondisi hamil di luar kandungan ini sulit terdeteksi.

Meski begitu, sebaiknya Moms waspada jika mengalami gejala umum maupun gejala darurat medis berikut ini, yang bisa menjadi gejala kehamilan ektopik.

Gejala umum

Nyeri panggul seringkali menjadi tanda awal dari Moms mengalami risiko kehamilan ektopik. Keluhan ini bisa disertai dengan perdarahan ringan dari vagina.

Jika darah berasal dari tuba falopi, nyeri pada perut akan semakin parah. Penderita juga bisa merasakan dorongan untuk buang air besar (BAB) atau rasa tidak nyaman ketika BAB dan buang air kecil.

Jika terjadi perdarahan berat, penderita kemungkinan dapat mengalami rasa sakit di bahu. Hal ini karena darah akan memenuhi rongga panggul dan perut.

Gejala darurat medis

Apabila sel telur yang telah dibuahi terus berkembang dalam tuba falopi, maka tuba falopi bisa pecah. Pada kondisi ini, perdarahan hebat dalam rongga perut pun akan terjadi. Pecahnya tuba falopi termasuk kondisi gawat darurat medis yang memerlukan operasi secepatnya, untuk memperbaiki organ tersebut.

Gejala pecahnya tuba falopi dapat berupa nyeri perut yang tiba-tiba muncul secara mendadak, terasa tajam, dan intens, sangat pusing, pingsan, wajah yang sangat pucat, syok (penurunan tekanan darah yang mengganggu aliran darah tubuh).

Baca juga: Tanda-tanda Kehamilan Sehat yang Bisa Moms Kenali

Penyebab Kehamilan Ektopik

Sampai saat ini penyebab dan risiko kehamilan ektopik belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, terdapat beberapa kondisi yang kerap dikaitkan dengan kehamilan ektopik, antara lain:

  • Tuba falopi yang rusak karena mengalami peradangan atau cacat akibat infeksi maupun pembedahan
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Kelainan genetik
  • Cacat lahir
  • Kondisi medis yang memengaruhi bentuk maupun kondisi saluran tuba dan organ reproduksi lainnya
  • Faktor risiko

Semua wanita yang aktif secara seksual memiliki risiko mengalami kehamilan ektopik. Akan tetapi, beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risikonya.

  • Riwayat kehamilan ektopik
  • Pernah mengalami peradangan atau infeksi tertentu, seperti penyakit menular seksual (seperti gonore atau klamidia). Kondisi ini dapat memicu inflamasi pada tuba falopi atau organ terdekat, sehingga meningkatkan risiko kehamilan di luar rahim.
  • Prosedur untuk meningkatkan kesuburan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang menjalani program bayi tabung atau perawatan serupa, lebih rentan mengalami kehamilan ektopik.
  • Gangguan kesuburan (infertilitas)
  • Pernah menjalani operasi tuba falopi
  • Penggunaan alat kontrasepsi intrauterine device (IUD). Apabila kehamilan terjadi saat KB spiral masih ada dalam rahim, Moms kemungkinan besar akan mengalami kehamilan ektopik.
  • Prosedur ligasi tuba (mengikat tuba). Metode kontrasepsi permanen ini juga bisa meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
  • Kebiasaan merokok. Risiko kehamilan ektopik pun akan semakin tinggi apabila Moms sering merokok.

Cara Mencegah Moms Mengalami Risiko Kehamilan Ektopik

Meskipun penyebab risiko mengalami kehamilan ektopik belum diketahui dengan pasti, cara mencegah kehamilan ektopik juga belum diketahui. Akan tetapi, terdapat beberapa tips yang dapat Moms lakukan untuk mengurangi risiko mengalami kehamilan ektopik, antara lain:

  • Mencegah penyakit menular seksual, setia pada pasangan dengan tidak berganti-ganti pasangan seks, atau menggunakan kondom ketika sedang berhubungan intim.
  • Tidak merokok. Apabila Moms memiliki kebiasaan merokok, sebaiknya Moms berhenti sebelum Moms menjalani program hamil (promil).

Kapan Moms Harus ke Dokter?

Kehamilan ektopik cukup sulit untuk dikenali karena gejalanya yang mirip dengan kehamilan normal. Oleh sebab itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin harus dilakukan. Sebaiknya Moms juga segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami tanda-tanda kehamilan yang disertai nyeri panggul yang parah dan perdarahan dengan volume banyak dari vagina.

Itulah beberapa gejala dan penyebab dari risiko kehamilan ektopik, sebaiknya Moms segera memeriksakan diri ke dokter apabila Moms mengalami gejala-gejala diatas. Semoga bermanfaat!

Baca Juga: Ini 6 Pantangan Ibu Hamil Muda yang Harus Dihindari

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Related Articles

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x