Obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi memang banyak jenisnya. Obat-obatan yang termasuk dalam daftar obat tekanan darah tinggi mempunyai cara kerja yang berbeda-beda. Tekanan darah normal adalah tekanan darah yang berada pada angka 120/80 mmHg atau sedikit di bawah angka tersebut.

Seseorang bisa dikatakan mempunyai tekanan darah tinggi atau hipertensi apabila tekanan darahnya berada pada nilai 130/80 mmHg atau lebih. Lalu, apa saja jenis-jenis obat  yang dapat mengatasi tekanan darah tinggi?

Merubah gaya hidup

Untuk mengobati hipertensi dan menjaga tekanan darah tetap stabil, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan perbaikan gaya hidup, antara lain:

  • Pola makan sehat dengan mengurangi asupan garam dan memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
  • Memperbanyak aktivitas fisik dan rutin olahraga.
  • Menurunkan berat badan jika mengalami obesitas dan menjaga berat badan tetap ideal.
  • Mengurangi minum minuman berkafein, seperti kopi, teh, atau minuman bersoda.
  • Berhenti merokok.
  • Mengurangi konsumsi alkohol.
  • Mengurangi stres.
  • Istirahat yang cukup.

Akan tetapi, apabila perbaikan gaya hidup tidak berhasil menurunkan tekanan darah, dokter akan memberikan resep obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Selama mengkonsumsi obat, Moms tentunya harus tetap menerapkan pola hidup yang sehat.

Daftar Obat Tekanan Darah Tinggi

Berikut beberapa jenis obat tekanan darah tinggi, antara lain: 

Angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor)

ACE inhibitor bekerja dengan cara menghambat produksi hormon angiotensin, yaitu hormon yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Dengan obat ini, otot dinding pembuluh darah akan menjadi rileks dan sedikit melebar, sehingga tekanan pada pembuluh darah berkurang.

ACE inhibitor umumnya diberikan pada pasien yang usianya di atas 65 tahun atau pasien hipertensi yang mempunyai kondisi medis lain, seperti penyakit jantung, gagal jantung, kelainan ginjal, dan diabetes.

Contoh obat ACE inhibitor yang umum digunakan adalah captopril, enalapril, lisinopril, perindopril, dan ramipril. Adapun efek samping dari obat ACE inhibitor antara lain batuk kering, sakit kepala, pusing, hiperkalemia, dan ruam kulit.

Obat tekanan darah tinggi yang satu ini juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan atau cacat pada janin apabila Moms mengkonsumsi nya pada saat hamil. 

Angiotensin II receptor blocker (ARB)

ARB mempunyai efek yang hampir sama dengan ACE inhibitor, akan tetapi cara kerja kedua golongan obat ini berbeda. ARB menghalangi kerja hormon angiotensin yang menyempitkan pembuluh darah, sehingga pembuluh darah bisa diperlebar agar sirkulasi darah berjalan lancar sekaligus menurunkan tekanan darah.

Umumnya dokter akan meresepkan obat ini kepada pasien yang tidak cocok dengan obat hipertensi golongan ACE inhibitor. Contoh obat ARB yaitu candesartan, irbesartan, losartan, valsartan, dan olmesartan.

Adapun efek samping dari obat tekanan darah tinggi golongan ARB yaitu, pusing, sakit kepala, dan peningkatan risiko kematian janin di dalam kandungan.

Beta blockers

Beta blockers bekerja dengan cara menghambat efek hormon epinefrin atau adrenalin, yaitu hormon yang memiliki peran dalam meningkatkan aliran dan tekanan darah. Karena efek tersebut, obat golongan beta blockers dapat menyebabkan jantung berdenyut lebih lambat dan tekanan darah menurun.

Selain untuk menurunkan tekanan darah, obat golongan ini juga dapat digunakan untuk mengobati kelainan irama jantung (aritmia), gagal jantung, penyakit jantung, dan hipertiroidisme.

Contoh obat beta blockers atau penghambat beta antara lain atenolol, bisoprolol, dan metoprolol. Adapun efek samping yang sering dialami setelah mengkonsumsi obat ini adalah pusing, sakit kepala, mual, kelelahan, sulit tidur, serta sesak napas.

Oleh sebab itu, penggunaan obat beta blockers mungkin perlu dihindari oleh penderita hipertensi yang mempunyai asma.

Calcium channel blocker (CCB)

Kalsium merupakan mineral yang mempunyai peran dalam meningkatkan kekuatan otot jantung dan pembuluh darah. CCB bekerja dengan cara menghambat jalan masuk kalsium ke dalam otot jantung dan dinding pembuluh darah, sehingga membuat sel-sel jantung dan pembuluh darah otot mengendur dan rileks. Efek ini membuat tekanan darah menurun.

Obat ini umumnya diberikan bersamaan dengan beta blockers. Contoh obat CCB adalah amlodipine, nicardipine, diltiazem, verapamil, dan nifedipine.

Sama seperti jenis obat tekanan darah tinggi lainnya, CCB juga memiliki efek samping. Adapun efek samping akibat penggunaan CCB adalah sakit kepala, kaki yang membengkak, dada berdebar, dan sembelit.

Diuretik

Diuretik bekerja dengan cara membuang kelebihan air dan natrium dalam tubuh, sehingga jumlah cairan dan garam yang mengalir dalam pembuluh darah menurun. Efek ini dapat menimbulkan penurunan tekanan darah.

Contoh obat diuretik yaitu furosemide, torsemide, spironolactone, dan hydrochlorothiazide. Adapun efek samping dari obat diuertik berupa pusing, sering merasa haus, lebih sering buang air kecil, kram otot, dehidrasi, ruam kulit, dan munculnya gejala asam urat.

Nitrat

Nitrat memiliki fungsi untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah ke jantung meningkat dan jantung tidak memompa darah lebih kuat. Umumnya dokter baru akan meresepkan obat ini ketika obat beta blockers dan CCB tidak bekerja dengan efektif atau pada pasien hipertensi yang mengalami serangan jantung.

Jenis obat-obatan nitrat adalah isosorbide dinitrate, isosorbide mononitrate, dan glyceryl trinitrate. Obat tekanan darah tinggi golongan nitrat ini memiliki efek samping berupa pusing, wajah kemerahan, mual, hipotensi, dan rasa tidak nyaman di mulut.

Alpha blockers

Obat tekanan darah tinggi ini bekerja dengan cara menghambat kerja hormon norepinefrin yang dapat menyempitkan aliran darah dan membuat otot mengalami kontraksi. Obat golongan alpha blockers dapat membuat otot pembuluh darah menjadi rileks, sehingga tekanan darah menurun.

Obat-obatan golongan alpha blockers biasanya bukan merupakan pilihan obat tekanan darah tinggi yang utama. Obat ini umumnya diberikan pada pasien hipertensi yang juga mempunyai kondisi medis lain, seperti pembesaran prostat jinak (BPH) dan penyakit arteri perifer.

Contoh obat yang termasuk dalam golongan alpha blockers adalah terazosin, prazosin, dan tamsulosin. Adapun efek samping obat golongan alpha blockers adalah pusing dan hipotensi ortostatik, yaitu penurunan tekanan darah saat posisi tubuh berubah.

Penderita hipertensi disarankan untuk memeriksakan tekanan darah secara rutin di rumah dengan tensimeter dan rutin konsultasi ke dokter untuk memantau efektivitas pengobatan dalam mengendalikan tekanan darah.

Baca Juga: Pilihan Obat Gusi Bengkak dari Bahan Alami

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
You May Also Like