Bullying merupakan permasalahan yang terjadi di seluruh dunia. Yang sering terlupakan bahwa dampak bullying sangat berpengaruh pada masa depan seseorang. Dampak bullying dalam jangka pendek dapat terlihat dengan jelas. Terlebih, apabila perundungan terjadi secara fisik. Luka memar dan berdarah dapat langsung terlihat oleh mata dan jadi senjata pendorong untuk membuat pelaku minta maaf. Akan tetapi, berbeda dengan mental. Menangis setelah menjadi korban bully hanya kondisi yang terlihat sesaat. Belasan bahkan puluhan tahun setelahnya, luka mental itu tidak mudah untuk sembuh. Lalu, apa saja efek dari bullying?

Efek dari bullying 

Masalah psikologis

Efek pertama dari bullying yaitu masalah psikologis. Korban bully umumnya menunjukkan adanya gejala masalah psikologis, bahkan setelah perundungan berlangsung. Kondisi yang paling sering muncul yaitu gangguan kecemasan bahkan depresi.

Tidak hanya itu, korban bully juga dapat mengalami gejala psikosomatis, yang membuat masalah psikologis memicu gangguan pada kesehatan fisik seseorang.

Hal ini tidak hanya berlaku pada orang dewasa, namun juga anak-anak. Misalnya ketika seorang anak masuk sekolah, anak akan merasa sakit perut dan sakit kepala, walaupun secara fisik tidak ada yang salah di tubuhnya. Hal inilah yang disebut dengan gejala psikosomatis.

Gangguan tidur

Efek dari bullying yang juga dapat terlihat jelas yaitu gangguan tidur. Para korban bullying umumnya kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. Meskipun bisa tidur, tak jarang waktu tersebut justru dihiasi dengan mimpi buruk.

Kecenderungan untuk bunuh diri

Efek dari bullying yang berikut ini, tidak hanya menghampiri pikiran orang dewasa saja. Namun, anak-anak dan remaja pun memiliki risiko untuk berpikiran mengakhiri hidup. Tidak jarang terdapat laporan kejadian tentang anak berusia sekolah yang meninggal dunia akibat bunuh diri setelah dirundung oleh teman-teman seusianya.

Tidak dapat bersosialisasi

Anak maupun orang dewasa yang mengalami bullying, secara tidak langsung ditempatkan oleh teman – temannya pada status sosial yang lebih rendah. Hal inilah yang membuat korban bully menjadi sering merasa kesepian, terabaikan, dan berujung pada kekurangan rasa percaya diri.

Gangguan prestasi

Anak-anak yang mengalami perundungan, cenderung akan mengalami kesulitan dalam mencapai prestasi belajar. Mereka akan kesulitan untuk fokus di kelas, jarang masuk sekolah, dan tidak diikutsertakan dalam kegiatan yang ada di sekolah.

Efek dari bullying dalam jangka panjang

Dampak bullying seringkali masih dirasakan korban, walaupun belasan bahkan puluhan tahun setelah insiden tersebut berlangsung. Dampak bullying dalam jangka panjang ini memang jarang terlihat, namun justru dampak ini yang paling membuat korban merasa lebih tersiksa.

Beberapa peneliti di Inggris melakukan riset mengenai dampak bullying hingga 40 tahun setelah kejadian. Hasilnya, terdapat beberapa dampak jangka panjang yang dirasakan para korban, antara lain:

  • Kondisi kesehatan para korban bully yang sekarang sudah berusia 50 tahun, cenderung lebih buruk dari segi mental maupun fisik.
  • Fungsi kognitif lebih rendah dibandingkan dengan orang seusianya yang tidak pernah menjadi korban bully.
  • Kualitas hidup dan tingkat kepuasan hidup korban bully juga cenderung lebih rendah dibandingkan rekan seusianya yang tidak pernah mengalami perundungan.

Perlu Moms ingat bahwa, dampak bullying juga tidak selalu bisa diprediksi kemunculannya. Anak yang mengalami bullying, bisa saja tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu dengan perlakukan tersebut. Akan tetapi di kemudian hari, anak-anak tersebut berisiko lebih tinggi mengalami gangguan mental depresif dan menerima perawatan psikiatri.

Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Mental dengan Sederhana

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
You May Also Like