Tidak ada rumah tangga yang berjalan tanpa adanya pertengkaran di dalamnya. Seringkali pertengkaran dalam rumah tangga berujung dengan suami membuat istri menangis. Pertengkaran yang terjadi tentu saja tidak terjadi tanpa adanya penyebab. Namun, apabila Moms dan pasangan memahami dan menyelesaikan masalah yang ada dengan baik, pertengkaran dapat menjadi sebuah cara agar bisa memahami serta mengerti kebutuhan satu sama lain. Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab terjadinya pertengkaran di dalam rumah tangga. Yuk simak penjelasannya di bawah ini! 

Baca juga: Suami Berbohong Kepada Istri, Apa Penyebab dan Cara Menghadapinya?

Penyebab Pertengkaran dalam Rumah Tangga

Ada berbagai macam hal yang bisa menjadi penyebab terjadi pertengkaran antara Moms dan suami. Nah, yang disebutkan di bawah ini merupakan penyebab-penyebab yang sering terjadi. Diantaranya yaitu: 

1. Waktu Luang

Terkadang Moms tentu akan merasa kesal apabila suami memilih untuk hangout bersama dengan teman-temannya ketimbang menghabiskan waktu bersama dengan Moms. Hal ini sering terjadi pada banyak pasangan dan bukan hanya Moms saja. Seringkali wanita berpikir bahwa jika sudah menikah, waktu luang merupakan waktu bersama dengan pasangan. Sedangkan pria menganggap bahwa waktu luang adalah waktu bersenang-senang di dalam dunianya sendiri. Sebaiknya, Moms bicarakan soal ini dengan suami, kapan ia boleh meluangkan waktu dengan dunianya sendiri dan kapan meluangkan waktu dengan Moms. 

2. Uang

Penyebab terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga yang selanjutnya yaitu keuangan. Ini merupakan hal yang sering menjadi alasan terjadinya pertengkaran yang bahkan berujung pada perceraian. Oleh karena itu, penting bagi Moms dan pasangan untuk membicarakan soal keuangan saat persiapan sebelum menikah. Diskusikan keuangan secara bijak dengan pasangan dan buat catatan agar Moms dan suami tahu aliran uang. Selain itu, Moms juga perlu terbuka dengan pasangan mengenai keuangan. 

3. Tugas Rumah Tangga 

Di masa kini, suami dan istri harus lebih terbuka untuk membantu satu sama lain yang berhubungan dengan urusan rumah tangga. Namun sayangnya, seringkali hal ini menjadi sumber terjadinya pertengkaran rumah tangga. Untuk menghindari pertengkaran, bicarakan dengan suami dan bagilah tugas rumah tangga agar Moms tidak merasa terlalu lelah. 

4. Seks dan Keintiman

Seharusnya, keintiman sudah menjadi hal yang menyenangkan di dalam pernikahan. Namun ternyata, hal tersebut juga bisa menyebabkan pertengkaran, lho. Jika salah satu pihak tidak dapat memenuhi gairah pasangan yang tinggi, hal ini bisa menimbulkan kekecewaan. Sebaiknya, bicarakan hal ini secara privat dengan pasangan atau jika masalah tetap berlanjut, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan, ya. 

5. Stres

Jika sudah berumah tangga, tentunya Moms mempunyai banyak hal untuk dipikirkan. Tidak jarang istri sering merasa lelah dan akhirnya mengalami stress. Di sisi lain, suami juga akan dibuat lelah dengan pekerjaannya. Seringkali, pihak yang merasa lelah menyalahkan pihak lainnya karena tidak mengerti dirinya. Nah, agar hal ini tidak terjadi, sebelum ingin membuka mulut sebaiknya tenangkan dulu pikiran Moms. 

6. Cemburu

Bukan hanya pasangan yang baru berpacaran atau pengantin baru saja lho yang bertengkar karena cemburu. Pasangan yang sudah lama menikah juga masih bisa mengalami hal yang sama. Cemburu akan membuat Moms melampiaskan amarah dan memunculkan asumsi yang belum tentu benar dengan suami. Agar hal ini tidak menyebabkan pertengkaran, sebaiknya Moms menenangkan diri dan jelaskan pada suami bahwa Moms sedang cemburu. Tidak perlu mengekspresikannya dengan amarah. 

7. Ikut Campur dari Keluarga 

Pernikahan bukan hanya antara Moms dan suami, namun juga seluruh keluarga. Seringkali pasangan yang ingin mengurus rumah tangganya berdua akan bertengkar jika ada salah satu anggota keluarga yang ikut campur. Misalnya seperti, diomeli ibu mertua karena rumah tidak rapi padahal sebenarnya anak masih kecil dan sulit untuk mempertahankan agar rumah selalu rapi dengan adanya anak kecil. Oleh karena itu, Moms dan pasangan harus tegas dalam menentukan sejauh mana anggota keluarga lainnya ikut campur ke dalam rumah tangga kalian. 

Baca juga: Menghadapi Suami Kasar di Dalam Pertengkaran

Tipe-tipe Marah 

Saat terjadi pertengkaran dengan pasangan, pasti ada momen dimana pasangan tidak bisa mengontrol amarah dan yang terjadi adalah suami membuat istri menangis. Sebenarnya, marah merupakan sebuah emosi yang wajar. Ada beberapa tipe marah yang bisa Moms ketahui. Bisa saja suami termasuk ke dalam salah satu tipe marah di bawah ini: 

1. Tipe Passive-Aggressive

Tipe marah passive-aggressive yaitu tipe marah dimana seseorang meyakinkan orang lain bahwa ia tidak bersalah namun perbuatannya tidak sama dengan apa yang dikatakannya. Seseorang dengan tipe marah passive-aggressive akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang naik turun sehingga kata-kata dan perbuatannya tidak sama. 

2. Tipe Avoidant

Tipe marah avoidant adalah tipe dimana orang yang sedang marah akan memendam amarahnya, sering menghindari konflik, dan lebih banyak diam. 

3. Tipe Diplomatic

Tipe marah yang selanjutnya yaitu tipe diplomatic. Orang yang memiliki tipe marah diplomatic akan sadar bahwa mereka salah dan berkomunikasi untuk tetap menjaga perasaan orang lain. 

4. Tipe Explosive

Tipe marah explosive adalah tipe marah dimana seseorang akan berapi-api. Seseorang dengan tipe marah explosive akan mengutarakan dengan jelas apa yang sedang dirasakannya, bahkan mereka bisa sampai melempar barang ketika sedang marah. 

Baca juga: Menghadapi Perceraian, Ketahui Penyebabnya dan Cara untuk Bangkit Kembali

Cara Menghadapi Suami yang Emosional 

Suami membuat istri menangis adalah salah satu hasil dari pertengkaran dalam rumah tangga. Biasanya terjadi apabila suami mudah marah dan bertemperamen tinggi. Maka dari itu, Moms perlu melakukan tips-tips di bawah ini untuk menghadapinya:

1. Tunggu Sampai Tenang 

Saat suami mulai emosi, sebaiknya Moms jangan sampai terbawa emosi. Berikan waktu sekitar 15-20 menit agar suami bisa mengendalikan emosinya. Karena, emosi yang ditanggapi dengan emosi juga akan membuat pertengkaran menjadi meledak dan tidak menemukan solusinya. Tidak jarang hal ini sampai suami membuat istri menangis. 

2. Mencari Bantuan

Walaupun Moms sebaiknya bersikap tenang saat suami marah, namun Moms juga harus tahu kapan waktunya untuk mencari bantuan dari anggota keluarga yang lain atau bantuan dari profesional. Apabila emosi yang ditunjukkan suami membuat istri menangis dan tidak bahagia, pikirkan lagi situasi yang saat ini Moms rasakan dan pikirkan apakah perlu untuk mencari bantuan. 

3. Mendengarkan Keluhan Suami 

Tanpa kita sadari, emosi seseorang yang memuncak dapat terjadi karena adanya rasa kecewa yang menumpuk karena mereka merasa tidak dihargai atau tidak didengar. Mungkin saja, ketika emosi, suami sedang kecewa. Nah, untuk menghindari suami membuat istri menangis karena kemarahannya, sebaiknya dengarkan dulu keluhannya dan coba pahami apa yang sedang dibutuhkannya.

5. Hargai Suami 

Suami yang mudah emosi biasanya terjadi karena mereka merasa tidak dihargai, khususnya dalam urusan pekerjaan. Mungkin saja sebagian besar kemarahannya terjadi karena adanya masalah di kantor. Oleh karena itu, sebaiknya lihatlah situasi terlebih dahulu jika ingin membicarakan suatu masalah dan perhatikan apakah suami sedang memiliki masalah di kantornya untuk menghindari terjadinya pertengkaran. 

6. Jangan Ragu untuk Meminta Maaf 

Cara untuk menghadapi suami emosional yang terakhir yaitu jangan ragu untuk meminta maaf jika Moms tahu bahwa kemarahan suami disebabkan karena ucapan atau sikap Moms. Jangan menghindar dari kesalahan dan malah menyalahkan suami karena ini hanya akan memperburuk keadaan. 

Di dalam rumah tangga, akan ada momen dimana suami membuat istri menangis karena pertengkaran dan amarah yang tidak bisa dikontrol kedua pihak. Oleh karena itu, sebaiknya bicarakan hal yang menjadi masalah dengan baik dan tenang agar tidak terjadi hal seperti itu lagi ke depannya ya Moms!

Baca juga: Suami Tidak Bekerja, Apa yang Harus Moms Lakukan?

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
You May Also Like