Di Indonesia, jika terdapat  pertanyaan, “Usia berapa anak disunat?”, umumnya jawabannya adalah ketika liburan sekolah berlangsung. Dari sisi medis dan psikologis juga menyatakan bahwa belum tentu masa sekolah (SD atau SMP) adalah waktu yang tepat melaksanakan sunat. Jadi, usia berapa yang dianjurkan untuk anak melakukan sunat? Berikut pembahasannya.

Apa pengertian sunat?

Sunat, khitan, atau sirkumsisi, merupakan suatu tindakan yang memotong ujung atau menghilangkan sebagian kulit kepala penis pria. Anak disunat atau tidak, biasanya merupakan sebuah tradisi yang dipengaruhi oleh kepercayaan agama dan budaya dari anak tersebut. Umumnya prosedur sunat dilaksanakan di rumah sakit, klinik, dukun daerah atau jasa sunat di daerah sekitar rumah.

Alasan orangtua melakukan sunat kepada anak memang dipengaruhi oleh tradisi agama dan budaya. Sekitar 23,5% orangtua melaksanakan sunat pada anak telah berubah dengan alasan kesehatan.

Usia berapa sebaiknya anak disunat?

Waktu yang tepat bagi anak laki-laki untuk melakukan sunat berkisar usia 7-14 hari. Hal serupa juga sama dengan beberapa agama dan budaya yang menjalankan titah sunat sebagai sebuah kewajiban, misalnya di agama Islam yang menyarankan sunat sejak usia 1 minggu.

Alasan apa yang membuat para ahli medis menyarankan anak disunat pada usia bayi? Terdapat beberapa ahli menyatakan bahwa, bayi baru lahir yang usia nya sekitar satu minggu, darah yang keluar ketika proses sunat masih sedikit.

Ketika masih bayi, sel-sel dan jaringan sedang tumbuh dengan pesat. Selain itu, rasa sakit yang dirasakan juga tidak terlalu berat. Ketika usia bayi, risiko trauma oleh proses sunat juga tidak akan mempengaruhi anak kedepannya.

Sebenarnya, sunat dapat dilaksanakan kapan saja tergantung kesiapan dari orangtua dan anak. Akan tetapi, ada berbagai risiko yang kemungkinan akan dialami anak apabila ia baru disunat di usia yang sudah lebih dewasa, antara lain memerlukan beberapa jahitan pada kulit penis dan adanya risiko perdarahan ketika sunat.

Tidak semua anak bisa disunat saat bayi

Melakukan sunat kepada anak laki-laki ketika masih bayi juga tidak dapat dilakukan dengan sembarangan. Kondisi bayi harus fit, dan kondisi organ vitalnya harus dalam keadaan yang stabil.

Umumnya dokter jarang melaksanakan sunat untuk bayi yang berada pada usia di bawah lima tahun untuk alasan medis. Akan tetapi, apabila terdapat kondisi tertentu seperti infeksi pada kelenjar, fimosis, atau terdapat jaringan parut pada kulup penis bayi, kemungkinan besar bayi disarankan menjalani tindakan sunat.  

Manfaat sunat bagi kesehatan pria

Walaupun proses sunat sakit dan mendebarkan, ternyata sunat memiliki banyak manfaat. Contohnya adalah mengurangi timbulnya infeksi saluran kencing (ISK) pada pria. Pada kenyataannya, anak yang tidak disunat, pada saat dewasa nanti lebih berisiko 10 kali terkena infeksi saluran kencing dibanding anak yang disunat.

Manfaat sunat juga berpengaruh saat dewasa nanti, seperti dapat menurunkan risiko kanker penis, walaupun sebenarnya penyakit ini jarang terjadi pada yang disunat maupun tidak disunat. Berbagai studi juga menyatakan bahwa sunat berpengaruh terhadap ketahanan dari penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS.

Anak yang disunat juga lebih terbebas dari masalah penis, seperti peradangan, infeksi, atau iritasi yang umumnya terjadi pada anak yang tidak disunat. Pada saat anak disunat, hal itu merupakan salah satu proses yang lebih mudah untuk menjaga penis lebih bersih, meskipun anak yang tidak disunat juga bisa belajar bagaimana membersihkan bagian kulup bawah penis ketika dewasa nanti.

Baca Juga: Berapakah Berat dan Tinggi Badan Ideal Anak 6-12 Tahun?

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
You May Also Like