Minum jamu merupakan sebuah tradisi dan kebiasaan yang melekat dalam keluarga Indonesia. Terkadang orang tua akan memberikan jamu yang dipercaya sebagai obat tradisional ketika anak sakit, tidak nafsu makan, atau sekadar untuk menjaga daya tahan tubuh. Akan tetapi, bolehkah anak minum jamu? Bagaimana dengan bayi?

Beberapa orangtua merasa ragu untuk memberikan jamu kepada anak, khususnya yang masih berusia di bawah tiga tahun (batita). Moms, berikut informasi mengenai jamu yang diminum oleh anak maupun bayi.

Usia berapa anak boleh mulai minum jamu?

Jamu merupakan ramuan herbal yang dibuat dari bermacam-macam bahan-bahan alami. Bahan tersebut didapat dari macam-macam bagian tanaman seperti daun, akar, buah, batang, umbi, atau bunga. Jamu tidak memakai bahan-bahan kimia tambahan seperti paracetamol, pengawet, perisa buatan, atau zat aditif lain. Jadi, pada dasarnya jamu aman untuk diminum oleh siapa saja.

Lebih baik bayi yang masih menyusui secara eksklusif tidak diberikan jamu terlebih dahulu. Apabila bayi sudah tidak diberikan ASI eksklusif, sekitar kira-kira usia 6 bulan, Moms boleh mulai memberikan jamu.

Dosis jamu yang aman untuk anak

Walaupun jamu terbuat dari bahan alami, tidak berarti jamu boleh diminum tanpa mengindahkan dosis tertentu. Mengonsumsi terlalu banyak bahan tertentu juga memiliki risiko menimbulkan efek samping, khususnya bagi anak yang lebih rentan daripada orang dewasa.

Perhatikan apabila Moms membeli jamu jadi yang tersedia di pasaran (dengan label JAMU, OBAT HERBAL TERSTANDAR, atau FITOFARMAKA yang terdapat pada kemasannya). Umumnya pada produk-produk yang telah terdaftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ada informasi mengenai dosis yang disarankan untuk bayi, anak, dan orang dewasa.

Akan tetapi, jika tidak tercantum atau jika Moms meracik jamu sendiri di rumah, dapat disesuaikan dosisnya dengan usia anak. Anak di bawah usia 12 tahun hanya memerlukan setengah dari dosis orang dewasa. Sedangkan untuk anak di bawah usia lima tahun (balita), sebaiknya konsumsi seperempat dosis orang dewasa.

Hal yang harus diperhatikan sebelum anak minum jamu

Jamu yang Moms berikan untuk bayi dan anak harus sangat diperhatikan komposisi dan penggunaannya. Jamu dapat dikonsumsi dalam bentuk minuman, obat luar, atau suplemen. Kemudian Moms juga harus menjaga kebersihan dan penyimpanannya.

Cuci tangan Moms dengan bersih sebelum meracik, menyeduh, atau mengoleskan jamu pada bayi dan anak. Selalu pastikan jamu disimpan dalam suhu ruangan, dalam botol kaca atau plastik yang aman untuk makanan, dan jangan disimpan terlalu lama.

Anak atau bayi juga dianjurkan tidak minum jamu bersamaan dengan obat. Apabila anak memang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, sebaiknya hindari dulu minum jamu. Namun, anak masih diperbolehkan minum obat yang diresepkan dokter sambil tubuhnya dibalur dengan jamu berupa minyak gosok karena jamu berfungsi sebagai obat luar.

Apabila sakit yang dirasakan anak tidak segera membaik dalam waktu dua hari, sebaiknya segera periksa ke dokter. Hindari juga memberikan jamu secara eksklusif apabila penyakit yang diderita bayi atau anak cukup serius, contohnya demam tinggi karena infeksi bakteri, virus, atau kuman.

Manfaat jamu untuk anak

Jamu memiliki segudang manfaat untuk anak. Selain meningkatkan daya tahan tubuh, jamu juga dipercaya untuk meningkatkan nafsu makan, meredakan gejala penyakit tertentu seperti diare dan influenza, serta mengurangi rasa sakit karena gigi mau tumbuh.

Anak yang terbiasa minum jamu juga baik untuk mencegah ketergantungan terhadap obat-obatan farmasi atau resistensi antibiotik. Berikut beberapa contoh bahan alami yang bermanfaat untuk bayi dan anak.

Jahe

Manfaat jahe untuk kesehatan sudah diketahui secara luas. Jahe dapat membantu menyembuhkan masuk angin, perut kembung, dan berbagai masalah pencernaan yang dialami anak. Apabila anak Moms kurang suka dengan rasanya yang tajam, Moms dapat mencampurkan jahe ke dalam teh atau sup.

Kunyit

Jika anak menderita diare, berikan anak jamu dengan cara campurkan kunyit dengan sari daun jambu biji muda dan berikan 2 kali sehari. Selain meredakan diare, parutan kunyit dapat membantu mengobati ruam popok pada bayi. Oleskan parutan kunyit secukupnya pada area yang terkena ruam dan diamkan selama beberapa saat.

Temulawak

Bagi anak yang tidak nafsu makan, Moms dapat campurkan temulawak dengan setengah cangkir air hangat dan madu. Berikan dua hari sekali atau sesuai dengan kebutuhan anak. Suplemen dengan kandungan temulawak juga sudah banyak beredar. Selalu perhatikan dosis yang tercantum pada kemasan.

Kencur

Kencur telah dipercaya untuk meredakan batuk berdahak pada anak. Campurkan kencur, madu, dan jeruk nipis yang dicampur dalam air hangat dua sampai tiga kali sehari. Moms dapat menambahkan air rebusan daun belimbing wuluh agar efeknya semakin cepat terasa.

Perlu diingat, Moms sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan dokter anak sebelum memberikan makanan atau minuman di luar ASI kepada bayi.

Baca Juga: Kegunaan Minyak Kelapa yang Baik Untuk Bayi

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
You May Also Like