Alergi susu sapi adalah kondisi yang sulit untuk didiagnosa karena gejalanya mirip gangguan kesehatan lainnya. Intoleransi laktosa, misalnya, mempunyai gejala yang mirip dengan alergi susu sapi. Oleh sebab itu, penting bagi Moms untuk mengenali seluk-beluk alergi susu sapi pada sang buah hati. Apa saja dampak alergi susu sapi? Simak penjelasan berikut ini.

Penyebab Terjadinya Alergi Susu Sapi

Ketahuilah bahwa alergi memiliki kaitan dengan genetik. Hal ini berarti, sang buah hati yang mempunyai orang tua atau saudara kandung dengan bakat alergi, maka memiliki risiko mengalami alergi susu sapi akan lebih besar.

Alergi susu sapi terjadi saat sistem kekebalan tubuh salah mengartikan protein susu sapi sebagai zat yang berbahaya bagi tubuh. Hal itu selanjutnya menyebabkan peradangan hingga gejala alergi.

Umumnya usia bayi diketahui mengalami alergi susu sapi yaitu sebelum 6 bulan, jarang ditemukan gejala setelah 1 tahun. Alergi susu sapi biasanya dialami setelah sistem imun sang buah hat ‘diperkenalkan dengan protein susu sapi.

Perkenalan dengan protein susu sapi ini dapat secara langsung, yaitu pada sang buah hati yang memperoleh susu formula sapi atau pada bayi yang mendapatkan ASI dari Moms yang mengonsumsi produk susu sapi.

Baca Juga: Susu Kedelai untuk Ibu Hamil, Apa Saja Manfaatnya?

Gejala Alergi Susu Sapi

Gejala alergi susu sapi biasanya melibatkan tiga sistem tubuh, yaitu sistem pencernaan, sistem saluran napas, dan kulit. Gejala pada sistem pencernaan meliputi muntah, kolik, diare, sembelit, dan adanya darah pada feses. Sedangkan gejala pada sistem saluran napas, seperti batuk, pilek, mengi, dan lain-lain. Dan gejala pada kulit umumnya muncul ruam kemerahan.

Timbulnya gejala-gejala ini disebabkan adanya serangkaian mekanisme imun tubuh. Mekanisme kekebalan tubuh yang bermaksud baik dan menganggap protein susu sapi merupakan benda yang harus dihilangkan dari tubuh, mengakibatkan adanya kerusakan jaringan, misalnya jaringan mukosa saluran cerna. Salah satu kerusakan mukosa saluran cerna ini dapat Moms ketahui dengan adanya darah atau bercak darah di feses bayi.

Baca juga: Tubuh Moms Kurus? Minum Susu Penambah Berat Badan Berikut Ini

Dampak Alergi Susu Sapi yang Tidak Segera Ditangani

Mukosa saluran cerna merupakan tempat terjadinya penyerapan zat-zat nutrisi tubuh, makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Pada saat mukosa saluran cerna rusak, maka penyerapan zat gizi tidak berlangsung dengan optimal.

Bayi dan anak, terutama dalam masa 1000 hari pertama kelahirannya, sangat membutuhkan zat gizi yang seimbang untuk menunjang tumbuh kembangnya yang optimal.

Kerusakan mukosa saluran cerna karena adanya alergi susu sapi mengakibatkan makronutrien dan mikronutrien tidak dapat dicerna dengan baik. Hal ini pada akhirnya dapat mengganggu tumbuh kembang sang buah hati. Pada awalnya dapat terjadi penurunan berat badan, kemudian lama-lama tinggi badannya akan lebih pendek dari anak seusianya jika terus-menerus terjadi perkembangan kecerdasan kognitifnya juga akan terganggu.

Baca Juga: Manfaat Susu UHT untuk Kesehatan Anak

Apa Solusi yang Tepat?

Berikut beberapa solusi untuk mengatasi dampak alergi susu sapi, antara lain:

  1. Kenali gejala serta jangan remehkan gejala alergi sekecil apa pun.
  2. Segera atasi gejala dengan memeriksakan kepada dokter.
  3. Jika ada gejala, coba eliminasi atau hilangkan bahan makanan dari susu sapi sementara. Untuk sang buah hati yang ASI, sebisa mungkin hindari produk susu sapi lain, seperti keju, yoghurt, dan biskuit.
  4. Jika gejala berkurang setelah tes eliminasi, ada kemungkinan sang buah hati alergi susu sapi. Pastikan Moms konsultasikan dengan dokter anak.
  5. Pantau selalu grafik tumbuh kembang sang buah hati, umumnya terdapat di buku kontrol berobat atau Kartu Menuju Sehat (KMS).
  6. Jika anak terdiagnosis alergi susu sapi oleh dokter, gunakan alternatif pemberian susu dengan jenis susu lain. Salah satunya yaitu susu soya. 

Baca Juga: Minum Susu Sebelum Tidur, Boleh atau Tidak?

Mengatasi alergi susu sapi bukanlah hal yang mudah, akan tetapi bukan berarti tidak bisa. Bagaimanapun, tumbuh kembang sang buah hati yang optimal harus menjadi tujuan utama para Moms. Berdasarkan fakta menurut penelitian, anak alergi sama IQ-nya dengan anak tanpa alergi asalkan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembangnya optimal.

Baca Juga: Dampak Alergi Obat yang Perlu Moms Ketahui

Momslyfe tidak mempunyai wewenang untuk menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Untuk konsultasi medis disarankan agar Moms mengunjungi dokter atau tenaga medis terdekat.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
You May Also Like